Makalah
PENGELOLAAN LINGKUNGAN
SEBAGAI SUMBER BELAJAR
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Media PAI
Dosen Pengampu : Dr. Sukiman, M.Pd.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Pengelolaan Lingkungan sebagai Sumber
Belajar
Dalam membahas
pengelolaan lingkungan sebagai sumber belajar kita tidak bisa terlepas dari
tiga kata kunci yang ada didalamnya, yaitu pengelolaan, lingkungan dan sumber
belajar. Ketiganya kami uraikan sebagai berikut :
a.
Pengelolaan
Istilah
pengelolaan menurut Rita Mariyana, dkk (2010 : 16) merupakan terjemahan dari
kata management, berasal dari kata to manage yang berarti
mengatur, melaksanakan, mengelola, mengendalikan dan memperlakukan. Kemudian
kata management tersebut diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata
manajemen yang berarti pengelolaan, yakni sebagai suatu proses mengoordinasi
dan mengintegrasikan kegiatan-kegiatan kerja agar dapat diselesaikan secara
efektif dan efisien.[1]
b.
Lingkungan
Secara harfiah
istilah lingkungan diartikan sebagai suatau daerah atau kawasan yang
mempengaruhi pertumbuhan manusia.[2]
Dan dalam konteks ini, menurut Bambang Warsita, lingkungan dipahami sebagai situasi di sekitar terjadinya proses pembelajaran dimana pesan diterima oleh peserta
didik. Baik itu lingkungan fisik (seperti gedung sekolah, aula, bengkel, perpustakaan, laboratorium, museum, taman,
mushola dan lain sebagainya) maupun lingkungan non fisik (seperti tata ruang belajar, cuaca, suasana, penerangan, sirkulasi udara dan
lain sebagainya).[3]
c.
Sumber Belajar
Menurut
Nandang Najmulmunir (2010 : 2) sumber belajar (learning resources)
adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat
digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara
terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar
atau mencapai kompetensi tertentu.
Sehingga
istilah pengelolaan lingkungan sebagai sumber belajar dapat diartikan sebagai
suatu usaha untuk mengoordinasi dan mengintegrasikan berbagai komponen
lingkungan, baik itu fisik, social maupun psikologis, agar mempermudah peserta
didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu secara
efektif dan efisien.
2.2
Tujuan Pengelolaan Lingkungan sebagai Sumber
Belajar
Menurut
Mudhoffir (1992 : 10), secara umum pengelolaan lingkungan belajar bertujuan
untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan belajar mengajar. Hal ini
dilaksanakan dengan menyediakan berbagai macam pilihan untuk menunjang kegiatan
kelas tradisional dan untuk mendorong penggunaan cara-cara yang baru, yang
paling sesuai untuk mencapai tujuan program akademis dan kewajiban-kewajiban
institusional lain yang telah direncanakan sebelumnya.[4]
Sementara itu
Rita Mariyana, dkk (2010 : 18-22), secara khusus dan sistematis meninjau tujuan
dari pengelolaan lingkungan belajar ke dalam dua aspek. Yaitu ditinjau dari
aspek performances atau tampilan muka dari lingkungan belajar dan dari
aspek content atau isi dari lingkungan belajar tersebut.
Dari aspek performances,
pengelolaan lingkungan belajar diarahkan untuk dapat menampilkan lingkungan
yang mampu mengundang atau merangsang peserta didik untuk tertarik beraktivitas
didalam lingkungan belajar yang telah disediakan. Sedangkan dari aspek content,
terdapat dua hal yang mendasar, yaitu kemampuan lingkungan belajar dalam
memfasilitasi multisensory anak serta kemampuan lingkungan belajar dalam memberi
kesempatan pada peserta didik untuk beraktivitas dan berkreasi secara efektif
dan efisien. Secara skematis tujuan dari pengelolaan lingkungan belajar adalah
sebagai berikut :
![]() |
Keterangan :
a.
Merangsang Peserta Didik
Peserta didik
bersifat spontan, baik dalam menyampaikan rasa sukanya maupun sifat penolakan.
Lingkungan belajar yang memiliki kualitas performance tinggi akan dengan
mudah menarik peserta didik untuk memasukinya (inviting classroom). Jika
sesaat setelah pendidik memperkenalkan lingkungan belajar, dan peserta didik
bersikap antusias untuk memasukinya, maka hal itu mengindikasikan bahwa
pendidik berhasil menyiapkan lingkungan sebagai sumber belajar yang sesuai
dengan kebutuhan peserta didik. Dan sebaliknya jika sesaat setelah pendidik
memperkenalkan lingkungan belajar, dan peserta didik justru bersikap
biasa-biasa saja atau bahkan memunculkan reaksi penolakan, itu berarti bahwa
dari sisi performance, lingkungan yang pendidik jadikan sebagai sumber
belajar belum berhasil mencapai tujuan untuk merangsang peserta didik.
b.
Memfasilitasi Multisensori Peserta Didik
Kemampuan
berpikir dan meresepsi peserta didik berbeda-beda sesuai tahap perkembangannya,
sebagaian ada yang sudah mampu berpikir secara abstrak, sementara sebagian yang
lain baru bisa berpikir secara konkrit. Sehingga, berbagai lingkungan yang
disipakan untuk peserta didik hendaknya disiapkan dan dikelola sedapat mungkin
menyentuh totalitas dari potensi indra yang dimiliki peserta didik.
c.
Memberi Kesempatan Peserta Didik Beraktivitas
Aktivitas
adalah kata kunci dari perbuatan belajar seseorang. Semakin tinggi seseorang
melakukan aktivitas belajar, akan semakin banyak pula terjadinya perubahan
perilaku, baik sebagai hasil langsung (instructional effect), maupun
sebagai dampak tidak langsung (nurturant effect). Oleh karena itu
pengelolaan lingkungan harus ditujukan untuk memberikan kesempatan beraktivitas
dan berkreasi bagi peserta didik secara leluasa, dan memungkinkan memungkinkan
mereka untuk melakukan berbagai kegiatan, seperti mengamati, mengeksplorasi dan
bereksperimen. Segala kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mengembangkan dan
memberikan pengaruh positif bagi perkembangan dan peningkatan mutu belajar anak,
baik pada aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.[5]
2.3
Fungsi Pengelolaan Lingkungan sebagai Sumber
Belajar
Menurut
Nandang Najmulmunir (2010 : 2), lingkungan yang dikelola menjadi sumber belajar
memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah sebagai berikut :
a.
Lingkungan sebagai sumber belajar dapat
memberi pengalaman belajar yang konkrit dan langsung kepada peserta didik, atau
dengan kata lain mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat
verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit, sehingga akan lebih
memantapkan proses pembelajaran.
b.
Mengurangi intensitas pendidik menyampaikan
materi secara oral, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan peserta
didik untuk belajar secara aktif, leluasa dan memberikan kesempatan bagi mereka
untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya.
c.
Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap
pembelajaran, karena pengelolaan lingkungan sebagai sumber belajar pasti
didahului dengan perancangan program pembelajaran secara sistematis, dan
pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh aktivitas pengamatan/penelitian.
d.
Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih
luas, karena dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, pendidik
mampu menyajikan informasi yang mampu menembus batas ruang dan waktu.[6]
2.4
Ciri-ciri Lingkungan sebagai Sumber Belajar
Ali Muhtadi
(2006 : 8) menjelaskan bahwa lingkungan dalam pengelolaanya sebagai sumber belajar
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.
Memiliki suatu daya
yang dapat mendukung proses pencapaian tujuan pembelajaran.
b.
Memiliki nilai-nilai belajar.
c.
Bisa digunakan secara keseluruhan maupun
sebagian demi sebagian dalam proses
pembelajaran.
d.
Dapat dimanfaatkan secara by design
(sengaja dirancang secara khusus untuk pembelajaran) maupun by utilization
(dimanfaatkan dalam proses pembelajaran, tanpa
dirancang secara khusus dan telah ada di sekeliling kita).[7]
2.5
Jenis Sumber Belajar
Menurut
Nandang Najmulmunir (2010 : 3), secara garis besar terdapat dua jenis sumber
belajar, yaitu :
a. Sumber belajar
yang dirancang (learning resources by design), yakni sumber belajar yang
secara khusus dirancang atau dikembangkan sebagai komponen system instruksional
untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal.
b. Sumber belajar
yang dimanfaatkan (learning resources by utilization), yaitu sumber
belajar yang tidak didesain khusus untuk keperluan pembelajaran dan keberadaannya
dapat ditemukan, diterapkan dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
2.6
Prinsip-prinsip Pengelolaan Lingkungan Belajar
Untuk dapat
mewujudkan lingkungan belajar yang sesuai harapan, menurut Rita Mariana, dkk
(2010 : 22-32) perlu dilakukan upaya pengembangan dan pengelolaan yang mengacu
pada prinsip-prinsip sebagai berikut :
a.
Prinsip Merefleksikan Selera Peserta Didik
Pengembangan
lingkungan sebagai sumber belajar harus merefleksikan selera peserta didik (student’s
tastes), maksudnya adalah bahwa lingkungan belajar harus menarik bagi
peserta didik. Dalam penyediaan dan pengemasan lingkungan belajar tersebut
harus dipertimbangkan karakteristik, perasaan dan minat peserta didik. Dengan
kata lain, lingkungan yang dimanfaatkan sebagai sumber belajar perlu
diselaraskan dengan tahapan-tahapan perkembangan dan cara-cara belajar yang
khas bagi peserta didik pada tiap jenjang pendidikannya.
b.
Prinsip Berorientasi pada Optimalisasi
Perkembangan dan Belajar Peserta Didik
Prinsip ini
mengandung arti bahwa perkembangan dan hasil belajar yang diharapkan dapat
dicapai, terbaik dan bermakna bagi kehidupan peserta didik. Lingkungan belajar
seperti ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
-
Mengembangkan seluruh dimensi perkembangan
peserta didik secara holistic. Lingkungan dan fasilitas yang dimanfaatkan
mengacu pada prinsip-prinsip pembelajaran terpadu, yakni dapat mengembangkan
banyak aspek perkembangan peserta didik secara simultan (pada waktu yang
bersamaan).
-
Tidak hanya mengarahkan aktivitas belajar
secara sesaat, tapi mengarahkan peserta didik menjadi pembelajar sepanjang
hayat (long life long learner). Lingkungan seperti ini mengkondisikan
peserta didik mencintai belajar dan mengembangkan kemampuan belajar untuk
belajar seanjutnya (learning to learn).
-
Mendukung pengembangan itelektual peserta
didik yang lebih mantap. Artinya bukan sekedar pengalaman sesaat dan ingatan
jangka pendek (short terms memory), tapi bisa memberikan lompatan
pada ingatan jangka panjang (long terms memory).
-
Mengembangkan kemampuan dasar akademik,
yaitu kemampuan membaca, menulis dan
menghitung secara lebih bermakna. Maksudnya bermakna adalah keberhasilan dalam
membaca diikuti dengan munculnya
kegemaran membaca, keberhasilan dalam menulis
diikuti dengan munculnya kegemaran menulis, keberhasilan dalam
menghitung diikuti dengan munculnya ketelitian dan kegemaran menghitung.
-
Menciptakan suasana dan aktivitas belajar yang
menyenangkan, nyaman, aman, ilmiah dan alamiah.
-
Mengarahkan pengorganisasian pesan-pesan
pembelajaran, baik yang benuansa kognitif, afektif maupun psikomotorik.
Lingkungan yang dimanfaatkan senantiasa memperhatikan berbagai teknik penyajian
yang bercirikan mulai dari yang dikenali peserta didik menuju kepada yang belum
dikenali, mulai dari yang konkret menuju ke yang abstrak, serta mulai dari yang
dekat ke yang jauh. Dengan menjunjung prinsip-prinsip ini, pesan-pesan pembelajaran
dapat mengendap pada diri peserta didik secara lebih logis dan terstruktur sehingga
kerancuan-kerancuan dalam dataran konsep dan kenyataan dapat dihindari.
c.
Prinsip Berpijak pada Efisiensi Pembelajaran
Prinsip ini
mengadung arti bahwa berbagai upaya yang dilakukan oleh pendidik dalam
mengelola lingkungan ditujukan dalam rangka mewujudkan kegiatan pembelajaran
yang hemat, produktif dan tepat guna, baik dilihat dari segi waktu, energy dan
biaya yang digunakan.
Pemanfaatan
lingkungan sebagai sumber belajar yang memiliki kadar efisiensi yang tinggi
membutuhkan berbagai keterampilan yang harus dimiliki oleh pendidik,
diantaranya adalah sebagai berikut :
-
Penguasaan mengenai ruang lingkup
pembelajaran, terutama terkait tema-tema yang dapat dikembangkan disekolah. Hal
ini dapat memudahkan pendidik untuk mengidentifikasi dan mengorganisasikan
berbagai potensi yang ada disekitarnya untuk dijadikan sebagai sumber belajar
yang relevan dengan meteri pembelajaran akan disampaikan.
-
Penguasaan terhadap karakteristik perkembangan
peserta didik. Hal ini sangat membantu pendidik utnuk menciptakan lingkungan
belajar yang harmonis, penuh rasa empatik serta memudahkan dalam melakukan
usaha-usaha yang sifatnya persuasive terhadap peserta didik.
-
Penguasaan guru terhadap kemampuan
mengendalikan dirinya sendiri. Masa anak-anak dan masa remaja dari peserta
didik masih dipenuhi dengan sifat egosentris dan spontanitas, sehingga dalam
menghadapi keadaan seperti ini diperlukan pengaturan emosi dan pengendalian
diri yang kuat. Efisiensi pembelajaran menuntut adanya kebijaksanaan pendidik (the
wise teacher). Artinya dapat menangani peserta didik secara baik, pendidik
tidak hanya professional, tapi juga harus memiliki rasa bijak yang memadai.
-
Kepekaan (sensitivity) pendidik
terhadap hal-hal yang akan merusak kelancaran dalam pengelolaan lingkunagan
belajar. Sensitivitas ini akan membantu mempercepat pendidik dalam mengenali,
menangkap berbagai pengaruh negative yang mengganggu pembelajaran, dan akan
dengan segera mengembalikan pada lingkungan atau suasana pembelajaran yang
semestinya.[8]
2.7 Jenis Lingkungan sebagai Sumber Belajar
Menurut Nana Sudjana dan Ahmad
Rifai (2009 : 212-214), lingkungan masyarakat yang dapat dimanfaatkan dalam
proses pendidikan dan pengajaran secara umum dapat dibedakan menjadi tiga jenis
lingkungan belajar, yaitu lingkungan
sosial, lingkungan alam dan lingkungan buatan.[9]
a. Lingkungan sosial
Lingkungan sosial sebagai sumber
belajar ini berkenaan dengan interaksi manusia dengan kehidupan bermasyarakat.
Seperti organisasi sosial, adat dan kebiasaan, mata pencahaarian, kebudayaan,
pendidikan, kependudukan, struktur pemerintahan, agama, dan system nilai.
Lingkungan sosial ini biasanya digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu social dan
kemanusiaan.
Dan dalam praktek pengajaran yang
memanfaatkan lingkungan social sebagai media dan sumber belajar hendaknya
dimulai dari lingkungan yang dekat dahulu. Seperti keluarga, tetangga, RT, RW,
kampung, desa, kecamatan, dan seterusnya. Kemudian,
pengajaran tersebut harus disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku dan tingkat
perkembangan anak didik. Misalnya dalam materi pelajaran zakat, siswa diberi
tugas untuk mengumpulkan zakat di masjid sekitar rumah secara berkelompok, lalu
mendata warga yang berhak mendapatkan zakat, setelah itu siswa membagikan zakat
tersebut kepada orang – orang yang berhak menerima.
b. Lingkungan alam
Lingkungan alam ini berkaitan
dengan segala sesuatu yang sifatnya alamiah, seperti keadaan geografis, iklim,
suhu udara, musim, curah hujan, flora, fauna, dan sumber daya alam. Lingkungan
alam biasanya digunakan untuk bidang studi ilmu pengetahuan alam, namun juga tidak menutup kemungkinan untuk dipakai
di bidang studi lain selama itu memang relefan dan dibutuhkan.
Aspek – aspek lingkungan alam ini dapat dipelajari
secara langsung oleh para siswa dengan mudah, melalui pengamatan dan pencatatan
secara pasti. Karena mengingat sifat-sifat dari gejala alam relative tetap
tidak seperti dalam lingkungan social. Misalnya dalam mengamati perubahan-perubahan
yang terjadi di dalam proses pertumbuhan makhluk hidup. Gejala lain yang dapat dipelajari adalah kerusakan-kerusakan lingkungan
alam termasuk factor penyebabnya seperti erosi, penggundulan hutan, pencemaran
air, tanah, udara, dan sebagainya.
Dengan mempelajari lingkungan
alam, diharapkan para siswa dapat lebih memahami materi pelajaran di sekolah
serta dapat menumbuhkan cinta alam, kesadaran untuk menjaga dan memelihara
lingkungan, turut serta dalam menanggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan
serta tetap menjaga kelestarian kemampuan sumber daya alam yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
c. Lingkungan buatan
Selain lingkungan social dan
lingkungan alam yang sifatnya alami, ada juga yang disebut lingkungan buatan, yaitu lingkungan yang sengaja diciptakan atau dibuat
oleh manusia untuk tujuan – tujuan tertentu yang bermanfaat bagi kehidupan
manusia. Lingkungan buatan ini terdiri dari irigasi atau pengairan, bendungan,
pertamanan, kebun binatang, perkebunan, penghijauan, dan pembangkit tenaga
listrik.
Siswa dapat mempelajari
lingkungan buatan dari berbagai aspek, seperti prosesnya, pemanfaatannya,
fungsinya, pemeliharaannya, daya dukungnya, serta aspek lain yang berkenaan
dengan pembangunan dan kepentingan manusia dan masyarakat pada umumnya.
Lingkungan buatan ini dapat dikaitkan dengan berbagai pelajaran yang diberikan
di sekolah.
Melalui perencanaan yang matang, ketiga lingkungan diatas dapat digunakan sebagai sumber belajar baik
pada jam pelajaran maupun di luar
jam pelajaran (tugas); secara individu maupun kelompok yang nantinya akan membantu memperkaya materi, memperjelas
prinsip dan konsep yang dipelajari, dan sebagai laboratorium hidup.
2.8 Teknik Menggunakan Lingkungan
Menurut Nana
Sudjana dan Ahmad Rifai (2009 : 209-212), terdapat enam teknik/cara menggunakan lingkungan
sebagai media dan sumber belajar, yaitu survey, camping (berkemah), field trip (karyawisata), praktek
lapangan, mengundang nara sumber, dan proyek pelayanan dan pengabdian pada
masyarakat.[10]
a. Survey
Yaitu siswa
mengunjungi lingkungan seperti masyarakat setempat untuk mempelajari dan
mengamati proses social, budaya, ekonomi, kependudukan, dan lain – lain.
Kegiatan ini dilakukan siswa melalui observasi, wawancara dengan nara sumber,
mempelajari data atau dokumen yang ada, dan lain – lain. Lalu, hasilnya dicatat
dan dilaporkan untuk dibahas bersama dan disimpulkan oleh guru dan siswa untuk
melengkapi bahan pengajaran. Pelajaran yang dapat digunakan untuk survey
diutamakan bidang study ilmu social dan kemasyarakatan.
b. Camping (berkemah)
Kegiatan berkemah ini membutuhkan
waktu yang cukup lama, karena siswa harus dapat menghayati bagaimana kehidupan
alam seperti suhu, iklim, suasana, dan lain – lain. Berkemah cocok untuk
mempelajari ilmu pengetahuan alam, ekologi, biologi, kimia, dan fisika.
c. Field trip (karyawisata)
Karyawista
adalah kunjungan siswa keluar kelas untuk mempelajari obyek tertentu sebagai
bagian integral dari kegiatan kurikuler di sekolah. Sebelum karyawisata
dilaksanakan, terlebih dahulu direncanakan objek yang akan dipelajari, cara
mempelajarinya, dan kapan sebaiknya dipelajari. Objek
karyawisata harus sesuai dengan bahan pengajaran, misalnya museum untuk pelajaran
sejarah, kebun binatang untuk pelajaran biologi dan sebagainya. Karyawisata
selain untuk kegiatan belajar juga untuk rekreasi yang mengandung nilai
edukatif.
d. Praktek lapangan
Praktek lapangan ini dilaksanakan
oleh para siswa untuk memperoleh keterampilan dan kecakapan khusus. Misalnya siswa SMK dikirim ke perusahaan-perusahaan untuk mempelajari dan memepraktikkan pembukuan,
akuntansi, dan lain-lain. Dengan demikian, praktik lapangan berkaitan dengan
keterampilan tertentu sehingga lebih tepat untuk sekolah-sekolah kejuruan.
e. Mengundang nara sumber
Teknik kelima
ini berbeda dengan teknik-teknik
sebelumnya. Jika pada teknik sebelumnya kelas dibawa ke masyarakat, tapi teknik ini mengundang tokoh masyarakat ke sekolah untuk
memberikan penjelasan mengenai keahliannya di hadapan para siswa. Nara sumber
yang diundang, hendakanya relevan dengan kebutuhan belajar siswa, sehingga apa
yang diberikan oleh nara sumber dapat memperkaya materi yang diberikan guru di
sekolah. Dan criteria nara sumber dilihat dari keahliannya dalam suatu bidang
tertentu yang diperlukan bukan jabatan atau kedudukannya.
f. Proyek pelayanan dan pengabdian pada masyarakat
Cara ini dapat dilakukan, apabila sekolah ( guru dan siswa secara bersama-sama
melakukan kegiatan memberikan bantuan kepada masyarakat seperti pelayanan, penyuluhan, sosialisasi,
bakti social, partisipasi dalam
kegiatan masayarakat dan kegiatan lain yang diperlukan). Cara ini
memiliki manfaat yang baik bagi para siswa maupun bagi masayarakat setempat.
Bagi siswa bermanfaat untuk penerapan kecakapan dan keterampilan belajarnya
dalam bidang tertentu. Sedangkan bagi masyarakat bermanfaat untuk memperbaiki
keadaan yang seharusnya menjadi garapan masyarakat itu sendiri.
2.9 Langkah dan Prosedur Penggunaan Lingkungan
Memanfaatkan
lingkungan sebagai media dan sumber belajar dalam proses pengajaran memerlukan
persiapan dan perencanaan yang matamg dari para guru. Tanpa perencanaan yang
matang kegiatan belajar siswa tidak bisa terkendali, sehingga tujuan pengajaran
tidak tercapai dan siswa tidak melakukan kegiatan belajar sesuai dengan yang diharapkan. Maka dari itu,
menurut Nana Sudjana (2009 : 214-217) ada beberapa langkah yang harus ditempuh
dalam menggunakan lingkungan sumber belajar, yakni langkah persiapan, langkah pelaksanaan dan tindak lanjut.[11]
a.
Langkah
persiapan
-
Menentukan tujuan belajar yang berhubungan
dengan pembahasan bidang study.
-
Menentukan obyek yang harus dipelajari dan
dikunjungi/diobservasi.
-
Menentukan cara belajar siswa pada saat
kunjungan/observasi dilakukan.
-
Guru dan siswa mempersiapkan perizinan jika
diperlukan.
-
Persiapan teknis yang diperlukan untuk
kegiatan belajar.
b. Langkah pelaksanaan
Pada langkah ini para guru dan
siswa melakukan kegiatan belajar di tempat tujuan sesuai dengan rencana yang
telah dipersiapkan. Biasanya kegiatan ini diawalai dengan penjelasan petugas
mengenai objek yang akan dipelajari. Dalam penjelasan tersebut, siswa dapat
bertanya dan mencatat hal-hal yang penting. Setelah itu, siswa dibimbing oleh
petugas untuk melihat dan mengamati objek yang akan dipelajari. Dalam proses
ini, petugas menjelaskan proses kerja, mekanismenya, dan hal-hal yang lain.
Lalu, siswa dapat berkumpul dengan kelompoknya dan mendiskusikan hasil
catatannya untuk melengkapi dan memahami materi yang dipelajarinya.
Di akhir kunjungan, guru dan para
siswa mengucapkan terima kasih kepada petugas atau pimpinan obyek tersebut.
Bagi obyek kunjungan yang sifatnya tidak memerlukan petugas, para siswa dapat
langsung bisa melihat, mengamati dan mendokumentasikan objek, serta langsung bisa
mewawancarai nara sumber.
c. Tindak lanjut
Tindak lanjut dari kegiatan
belajar dilapangan di atas adalah kegiatan belajar di kelas untuk
membahas dan mendiskusikan hasil belajar dari lingkungan belajar. Setiap
kelompok diminta untuk melaporkan hasil-hasil dari pengamatan untuk dibahas
bersama. Selain itu, guru juga dapat meminta para siswa untuk menyampaikan
kesan – kesannya dari kegiatan belajar tersebut.
Di lain pihak, guru juga
memberikan penilaian terhadap kegiatan belajar siswa dan hasil yang dicapainya.
Tugas lanjutan dari kegiatan belajar tersebut dapat diberikan sebagai pekerjaan
rumah, misalnya menyusun laporan yang lebih lengkap dan ilmiah.
2.10
Kelemahan dan
Kelebihan Lingkungan sebagai Sumber Belajar
Menurut Nana Sudjana dan Ahmad
Rivai (2009 : 208-209), kelebihan dari lingkungan
sebagai sumber belajar ini cukup banyak, diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Kegiatan belajar menarik dan
tidak membosankan bagi siswa.
b. Hakikat belajar akan lebih
bermakna, karena siswa dihadapakan langsung dengan keadaan yang sebenarnya.
c. Bahan-bahan yang dipelajari lebih
banyak dan faktual, sehingga kebenaran lebih akurat.
d. Kegiatan belajar siswa lebih
komprehensip dan lebih aktif.
e. Sumber belajar menjadi lebih
kaya, karena lingkungan yang dipelajari bisa beranekaragam.
f. Siswa dapat memahami dan
menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada di lingkungan.
Sedangkan kelemahan lingkungan sebagai sumber belajar ini sering terjadi dalam teknis
pengaturan waktu dan kegiatan belajar, misalnya :
a. Kegiatan belajar kurang
dipersiapkan sebelumnya yang menyebabkan pada waktu siswa dibawa ke tempat
tujuan tidak melakukan kegiatan belajar yang diharapkan, sehingga ada kesan
main-main. Kelemahan ini bisa diatasi dengan persiapan yang matang sebelum
kegiatan dilaksanakan. Misalnya menentukan tujuan belajar yang diharapkan
dimiliki oleh siswa, menentukan cara bagaimana siswa mempelajarinya, menentukan
apa yang harus dipelajarinya, berapa lama dipelajari, cara memperoleh
informasi, mencatat hasil yang diperoleh, dll.
b. Ada kesan dari guru dan siswa
bahwa kegiatan mempelajari lingkungan memerlukan waktu yang cukup lama,
sehingga menghabiskan waktu untuk belajar di kelas. Kesan ini kurang tepat, sebab misalnya kunjungan ke kebun sekolah untuk
mempelajari keadaan tanah, jenis tumbuhan dan lain-lain cukup dilakukan beberapa menit,
selanjutnya kembali ke kelas untuk membahas lebih lanjut apa yang telah
dipelajarinya.
c. Sempitnya pandangan guru bahwa
kegiatan belajar hanya terjadi di dalam kelas. Guru lupa bahwa tugas belajar
siswa dapat dilakukan di luar jam pelajaran atau pelajaran baik secara
individual ataupun kelompok dan salah satu diantaranya dapat dilakukan dengan
mempelajari keadaan lingkungannya.[12]
BAB III
KESIMPULAN
3.2
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan lingkungan sebagai
sumber belajar dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk mengoordinasi dan
mengintegrasikan berbagai komponen lingkungan, baik itu fisik, social maupun
psikologis, agar mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau
mencapai kompetensi tertentu secara efektif dan efisien.
Secara umum
pengelolaan lingkungan belajar bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan
efisiensi kegiatan belajar mengajar. Sementara
fungsinya adalah untuk memberi pengalaman belajar yang konkrit, mengurangi intensitas pendidik
menyampaikan materi secara oral, memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap
pembelajaran, dan memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas.
Lingkungan
yang baik adalah lingkungan yang dikembangkan dengan menggunakan prinsip merefleksikan selera peserta didik, berorientasi pada optimalisasi
perkembangan dan belajar peserta didik, dan berpijak pada efisiensi
pembelajaran. Sehingga darinya akan terlihat bahwa dia memiliki suatu daya yang dapat mendukung proses pencapaian tujuan
pembelajaran, memiliki nilai-nilai belajar, bisa digunakan secara keseluruhan
maupun sebagian demi sebagian dalam proses pembelajaran, dan dapat dimanfaatkan
secara by design maupun by utilization.
Lingkungan
yang dapat dimanfaatkan dalam proses pendidikan dan pengajaran secara umum
dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu lingkungan
sosial, lingkungan alam dan lingkungan buatan. Dalam prakteknya kita harus
melakukan langkah persiapan, langkah pelaksanaan (bisa menggunakan teknik survey, camping, field
trip, praktek lapangan, mengundang nara sumber, dan/atau proyek pelayanan dan pengabdian pada masyarakat untuk
mendapatkan informasi) dan tindak lanjut.
Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar itu banyak manfaatnya, baik
dari segi motivasi belajar, kegiatan belajar, kekayaan informasi, hubungan sosial
siswa dan sebagainya. Namun tidak dapat dipungkiri pula bahwa lingkungan
sebagai sumber belajar juga memiliki kekurangan yang terletak pada teknis pengaturan waktu dan kegiatan belajar, misalnya kegiatan belajar
kurang dipersiapkan sebelumnya dan kegiatan mempelajari lingkungan
terkesan memerlukan waktu yang cukup lama.
DAFTAR PUSTAKA
KBBI Android V3.0.1 (15). 2008. Jakarta : Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Mariyana,Rita,dkk. 2010. Pengelolaan
Lingkungan Belajar. Jakarta :
Kencana.
Mudhoffir.1992. Prinsip-prinsip Pengelolaan Pusat
Sumber Belajar. Bandung :
Remaja Rosda Karya.
Muhtadi,Ali. 2006. Handout ke-8 Manajemen
Sumber Belajar.Yogyakarta : -
Najmulmunir,Nandang. 2010. Memanfaatkan Lingkungan di Sekitar Sekolah sebagai Pusat
Sumber Belajar. REGION Volume
2. No. 4.
Sudjana, Nana, dan Ahmad Rivai. 2009. Media Pengajaran : Penggunaan dan
Pembuatannya. Bandung : Sinar Baru Algesindo.
Warsita, Bambang. 2008. Teknologi Pembelajaran : Landasan &
Aplikasinya. Jakarta : Rineka Cipta.
[1] Rita Mariyana, Pengelolaan Lingkungan
Belajar, (Jakarta : Kencana, 2010), hlm. 16.
[2] ________, KBBI Android V3.0.1 (15),
(Jakarta : Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hlm. __.
[3] Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran: Landasan & Aplikasinya,
(Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm.210.
[4] Mudhoffir, Prinsip-prinsip Pengelolaan
Pusat Sumber Belajar, (Bandung : Remaja Rosda Karya, 1992), hlm. 10.
[5] Rita Mariyana, Op. Cit., hlm. 18-22.
[6] Nandang Najmulmunir, Memanfaatkan
Lingkungan Di Sekitar Sekolah Sebagai Pusat Sumber Belajar, (REGION Volume
2. No. 4. Maret 2010), hlm. 2.
[7] Ali Muhtadi, Manajemen Sumber Belajar,
(Yogyakarta : ______, 2006), Handout ke-8.
[8] Rita Mariyana, Op. Cit., hlm. 22-32.
[9] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran: Penggunaan dan
Pembuatannya, (Bandung : Sinar Baru Algesindo, 2009), hlm. 212-214.
